Cat’s In the Cradle karya Harry Chapin.
Beberapa cuplikan syair tersebut saya terjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia agar relevan untuk konteks Indonesia.
Serasa kemarin ketika anakku lahir dengan penuh berkah. Aku harus siap untuknya, sehingga sibuk aku mencari nafkah sampai ‘tak ingat kapan pertama kali ia belajar melangkah, kapan ia belajar bicara dan mulai lucu bertingkah.
Namun aku tahu betul ia pernah berkata,
“Aku akan menjadi seperti Ayah kelak”
“Ya betul aku ingin seperti Ayah kelak”
“Ayah, jam berapa nanti pulang?”
“Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”
Ketika saat anakku ulang tahun yang kesepuluh; Ia berkata,
“Terima kasih atas hadiah bolanya Ayah, wah … kita bisa main bola bersama. Ajari aku bagaimana cara melempar bola”
“Tentu saja ‘Nak, tetapi jangan sekarang, Ayah banyak pekerjaan sekarang”
Ia hanya berkata, “Oh ….”
Ia melangkah pergi, tetapi senyumnya tidak hilang, seraya berkata, “Aku akan seperti ayahku. Ya, betul aku akan sepertinya”
“Ayah, jam berapa nanti pulang?”
“Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”
Suatu saat anakku pulang ke rumah dari kuliah; Begitu gagahnya ia, dan aku memanggilnya, “Nak, aku bangga sekali denganmu, duduklah sebentar dengan Ayah”
Dia menengok sebentar sambil tersenyum, “Ayah, yang aku perlu sekarang adalah meminjam mobil, mana kuncinya?”
“Sampai bertemu nanti Ayah, aku ada janji dengan kawan”
“Nak, jam berapa nanti pulang?”
“Aku tak tahu ‘Yah, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”
Aku sudah lama pensiun, dan anakku sudah lama pergi dari rumah;
Suatu saat aku meneleponnya.
“Aku ingin bertemu denganmu, Nak”
Ia bilang,”Tentu saja aku senang bertemu Ayah, tetapi sekarang aku tidak ada waktu. Ayah tahu, pekerjaanku begitu menyita waktu, dan anak-anak sekarang sedang flu. Tetapi senang bisa berbicara dengan Ayah, betul aku senang mendengar suara Ayah”
Ketika ia menutup teleponnya, aku sekarang menyadari; Dia tumbuh besar persis seperti aku;
Ya betul, ternyata anakku “aku banget”.
Banyak Anak lelaki ketika masih kecil dia selalu berpikir dia akan menjadi seperti Ayah. Tetapi keika dia sudah dewasa mereka menjadi pribadi yang kacau itu semua disebabkan oleh figur Ayah mereka dibumi yang kurang memperhatikan anak-anak mereka tetapi tidak seperti Bapa disorga Dia selalu memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan anak-anaknya terutama yang mengasihi Dia dengan sungguh-sungguh. Pernah Anda bermain dengan anak anda? Pernahkah anda menjemput anak anda disekolah? Dengan siapakah mereka bergaul? Banyak para pria hanya terfokus oleh perkerjaan mereka padahal mereka punya sesuatu yang lebih berharga dan lebih penting yaitu: keluarga mereka. Sebab Tuhan kita pun bersekutu. Keluarga adalah Gereja kecil yang dibuat oleh Allah dibumi. Oleh sebab itu para ayah cintailah keluarga Anda.
sumber : dari buku Straight talk to Men




MEMBANGUN PRIA MEMBANGUN GEREJA TRANSFORMASI BANGSA
6:12 AM
Jaringan Pria Sejati, Cibubur (CMN)


Print this page
0 komentar:
Post a Comment