Awalnya saya bertemu dengan komunitas orang-orang Manado, dimana gaya hidup mereka hampir sama dengan saya, hidup bebas, tanpa aturan. Kemudian masyarakat sekitar rumah tempat kami berkumpul mulai resah. Mereka memperhatikan bahwa kami keluar-masuk membawa perempuan-perempuan. Kemudian terjadi keributan besar. Kami mati-matian mempertahankan rumah itu, karena kami tidak mau keluar dari situ. Senjata-senjata tajam pun sudah kami persiapkan, bahkan di sela-sela sofa pun ada.Setelah itu, tidak ada keinginan untuk hidup tenang, kami berbuat onar semaunya. Apapun kami lakukan. Naik taxi tidak pernah bayar, ketika sudah sampai di tempat tujuan, kami tekan tombol argometer sehingga kembali ke angka nol. Sopir taxi tersebut kami pukuli dan kami suruh pergi.
Suatu saat ketika kami sedang mabuk-mabukan hingga lepas control, saya sedang mengendarai mobil dan kebut-kebutan dengan seorang warga asing. Saya ikuti dia sampai ke rumahnya. Dan sebelum teman-teman saya sadar apa yang mau saya lakukan, saya sudah turun dan memukuli orang asing tersebut, sampai satpam rumahnya keluar dan saya kabur.
Saya pikir kejadian itu sudah selesai, tapi ternyata, kami diikuti polisi. Saya diberi tanda dari belakang supaya saya menepi, akan tetapi saya tidak mau tunduk dan saya mencoba kabur. Akan tetapi, akhirnya kami tetap tertangkap karena keempat ban mobil kami sudah ditembaki. Saya dibawa masuk ke mobil polisi tersebut. Saya mencoba untuk kabur lagi, namun ternyata mobil tersebut tidak dapat dibuka kuncinya dari dalam. Akhirnya saya masuk tahanan, namun tidak lama, karena bantuan teman, saya langsung bisa keluar.
Sifat brutal dan keganasan saya sebenarnya sudah tumbuh sejak remaja. Ketika saya melihat senior-senior dan teman-teman saya berkelahi, saya merasa senang dan terlihat sangat mengasyikkan. Yang saya rasakan pada saat melihat darah yang keluar dari musuh saya, saya merasa bergetar, dan merasa lebih bersemangat. Seperti mendapatkan doping, saya menjadi semakin bersemangat untuk menghajar musuh saya terus-menerus.
Guru saya pun pernah menjadi sasaran kebrutalan saya. Suatu hari, saya dimarahi di depan kelas oleh guru tersebut. Setelah selesai sekolah, saya hampiri beliau ketika hendak pulang. Saya remas kemaluannya, sampai beliau berteriak. Saya mengancamnya, bila sekali lagi saya diperlakukan seperti itu, akan saya hajar beliau. Dan reaksi guru tersebut hanya diam. Saya tahu, bahwa kasus ini akan dilaporkan kepada ketua yayasan. Namun ketika saya bertemu ketua yayasan, beliau hanya melihat saya sambil menggeleng-gelengkan kepala, dan kasus itu selesai begitu saja.
Selain di dunia kriminal, saya juga pribadi yang buas untuk urusan wanita. Bagi saya, setiap perempuan adalah hal yang mengasyikkan, dan saya boleh memilikinya. Jadi mau atau tidak mau, saya akan berusaha sampai wanita itu mau dengan saya. Tetapi tidak untuk dipacari, hanya untuk berhubungan seksual saja. Ketika saya check-in di hotel, pasangan saya berkata, “Ayo kak, kita masuk saja, mengapa di luar? Malu dilihat orang.” Tetapi saya menyuruh dia masuk terlebih dahulu.
Kemudian lewat sepasang lelaki dan wanita. Saya berpikir, tidak mungkin mereka adalah suami-isteri. Saya menanyakan kepada mereka apakah mereka pasangan atau bukan, tetapi mereka pikir saya aparat. Tapi saya mengatakan bahwa saya bukan aparat. Lalu saya mengajak mereka untuk bergabung di kamar saya. Setelah mereka masuk, saya bahkan tidak mau menutup pintu. Lelaki yang saya ajak itu ketakutan, takut ditangkap polisi.
Saat itu pikiran saya tidak pada pasangan saya, karena saya sudah bosan karena sudah sering dengan dia. Yang saya pikirkan adalah tukar guling, “tukar guling, tukar sambil guling-gulingan.” Bila dihitung berapa banyak wanita yang pernah tidur dengan saya, baik yang suka maupun tidak suka, sudah lebih dari seratus. Sudah tidak bisa saya hitung. Karena dalam sehari bisa ada dua wanita, melakukan hubungan seksual bertiga.
Karena sudah bosan dengan hubungan seks bertiga, saya mulai mencoba perbuatan bejat lain. Karena sudah bosan bila langsung berhubungan, saya lebih senang bila pasangan saya tidak senang. Saya mau perempuan itu memberontak, sehingga kita bertengkar dan saya memukulnya hingga berdarah-darah. Pada saat perempuan tersebut lemah tak berdaya dan mengeluarkan darah dari bibirnya yang pecah, pada saat itulah nafsu saya menggebu-gebu seperti api yang disiram bensin. Saya tidak mengerti apakah saya puas atau tidak, yang saya tahu adalah hal itu menyenangkan, mantap, asyik!!! Tidak ada rasa bersalah dan berdosa. Bila tidak bertemu lagi dengan wanita itu, masih banyak wanita yang lain.
Pada saat sebuah tawaran untuk membunuh datang, saya bertemu dengan seorang pria muda yang mengobrak-abrik perasaan saya. Saya memang kenal, tidak terlalu dekat dengan orang itu. Saya diajak ngobrol ke tempat makan. Dalam pikiran saya, adalah pekerjaan baru. Namun pembicaraannya mengarah langsung ke sasaran. Saya mulai curiga bahwa dia adalah aparat. Sampai pada saat dia berkata, “Bung, ingat di bukit ada 3 pribadi yang di salib.” Saya berpikir, “Waduh, bukannya kerjaan, malah bicara salib.” “Yang satu, kita tahu bahwa dia adalah Yesus, dan yang dua itu adalah penjahat. Bung, masih banyak orang yang lebih jahat dari Bung. Mau ga Bung bertobat?” demikian katanya. Saya berpikir, “Ini anak kemarin sore, sudah bicara tobat.” Akan tetapi saya tidak bisa memberontak di sana.
Hati saya merasa galau, akhirnya saya diantar pulang oleh dia, dan dia memaksa untuk mendoakan saya. Saya langsung merasa lemas sekujur tubuh. Dengkul saya lemas dua-duanya. Orang boleh berkata dengan enaknya untuk saya bertobat, tetapi dosa saya kan sudah sangat banyak, dan saya sudah sangat terikat. Jadi saya berpikir, untuk apa lagi saya bertobat, sampai sejauh mana Tuhan mau menerima saya? Sementara saya sudah bergelimpangan dengan dosa.
Di tengah kebimbangan hati, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti sebuah ibadah. Kemudian saya mengambil sebuah keputusan penting untuk bertobat. Bahkan saya lebih dibukakan lagi, tentang Tuhan Yesus justru datang untuk orang yang terhilang.
Pada saat itu terjadi flashback kehidupan saya selama ini seperti video yang diputar ulang. Dan saya berpikir, mengapa saya bisa serusak dan sejahat itu?Biasanya dari mulut saya keluar kata yang sia-sia, makian, namun pada saat itu, mulut saya mengucap ampun kepada Tuhan. Saya yakin itu bukan dari saya, melainkan itu kuasa Tuhan. Tuhan kita adalah Tuhan yang luar biasa. Seterikat apapun pada suatu dosa, saya telah mengalami bagaimana Tuhan mengampuni saya.Pada saat saya bertobat, saya tahu bahwa Tuhan memberi saya kesempatan untuk hidup, Ia mengampuni saya. Itu merupakan hal yang luar biasa ketika saya mengetahuinya.
Saya mengalami perubahan yang sangat dahsyat. Saya berani meminta maaf kepada orang-orang yang telah saya sakiti. Saat ini saya hidup bahagia dengan saling mencintai dengan Tuhan, dengan isteri dan anak-anak saya. Saya dulu sangat bejat, tetapi Tuhan Yesus mampu mengubah hidup saya. Saya bisa berubah karena saya mengambil keputusan untuk mengikuti Tuhan Yesus. Bila saya bisa berubah, maka saya yakin Anda semua bisa berubah.




MEMBANGUN PRIA MEMBANGUN GEREJA TRANSFORMASI BANGSA
10:42 AM
Jaringan Pria Sejati, Cibubur (CMN)

Print this page
0 komentar:
Post a Comment